14 Februari 2010, hari valentine, semua infotainment membicarakan artis Dian Sastrowardoyo yang dilamar oleh Indraguna Sutowo. Menurut berita, dian dilamar dengan adat sumatera selatan dan diiringi syair melayu. Semua orang memuji kecantikan dan uniknya tradisi lamaran tersebut. Saya tersenyum, bangga, dan berujar tanpa di tanya: ‘Itu nyawak, adat komering loh”
Indonesia-ku ini punya 1.128 suku. Komering adalah salah satu suku di Sumatera Selatan, yang terdiri dari Ogan Komering Ulu Timur Ogan Komering Ulu Selatan dan Ogan Komering Ilir. Saya sendiri dilahirkan dari pasangan ayah dari desa Ulak Baru dan ibu Campang Tiga. Desa Ulak Baru terletak dua desa setelah Campang Tiga. Campang tiga, Gunung Jati setelah itu Ulak Baru. Cinta antar desa nampaknya.
Orang Komering punya selera ‘yang bagus’ dalam memberi nama anaknya. Biasanya anak keturunan komering dinamai dengan nama yang kebarat-baratan. Nama saya sendiri Ledy Caroline. Walaupun salah pada penulisan huruf ‘e’ pada ledy yang seharusnya Lady, toh orang tua saya tetap bangga menamai anaknya demikian.Kata ayah saya, nama saya ini berarti ‘perempuan yang cantik’. kemudian saya baru tahu ternyata nama saya ini adalah nama Putri Kerajaan Monako.
Ada juga yang diberi nama Mantwothree, artinya anak lelaki kedua yang merupakan anak nomor tiga.Kakak pertamanya perempuan, kakak keduanya laki-laki dan dia sendiri anak ketiga yang juga seorang laki-laki.Yah, setidaknya dari dulu orang komering punya mimpi yang besar untuk bisa berbahasa Inggris dari cara mereka memberi nama anaknya. Tak heran setidaknya ada 2 orang komering asli yang menjadi Gubernur Sumatera Selatan, Bpk. Asnawi Mangku Alam (1967 s/d 1978) dan Bpk. Syahrial Oesman (2003 s/d 2008).
Tiap suku tentunya punya kebudayaan yang unik. Suku komering khususnya, ada adat nyawak atau lamaran ketika akan menikah.Mulanya kebiasaan nyawak dilakukan hanya oleh orang-orang kaya di desa.Hal itu dikarenakan banyaknya biaya yang harus dikeluarkan untuk acara tersebut. Untuk pasangan dari keluarga yang biasa saja, mereka akan sitakadan. Sejenis kawin lari yang direstui kalau di zaman sekarang. Calon mempelai wanita akan ‘diculik’ oleh mempelai pria. Tentu saja hal tersebut dilakukan dengan sepengetahuan keluarga wanita. Hal ini dilakukan sebagai tanda bahwa wanita tersebut sudah ada yang punya. Setelah beberapa hari ‘berlari’, mereka akan kembali lagi kedesa sebagai pasangan suami istri.
Adat nyawak yang berkembang sekarang sudah mulai bervariasi. Pada intinya nyawak merupakan acara lamaran yang menandakan bahwa keluarga pria menerima sang wanita sebagai bagian dari keluarganya. Acara nyawak adalah acara khusus kaum perempuan keluarga pria.Biasanya terdiri dari:Nenek, ibu, saudara wanita, dan bibik (saudara wanita dari ayah/ibu). Terkadang ditambah juga dengan sepupu dan ipar wanita keluarga pria.
Warah Warah
Sang pangeran datang beserta rombongan dengan membawa seserahan. Budaya Jawapun ada yang menggunakan tradisi seserahan yang merupakan simbol tanggung jawab pria terhadap wanita yang akan dinikahinya. Di Palembang, biasanya seserahan terdiri dari : satu set pakaian wanita, pakaian dalam wanita, perlengkapan mandi dan kosmetik, sepatu dan tas, pakaian kerja, kebaya, songket, perlengkapan bumbu dapur seperti bawang, kentang, cabai dll.
Pada acara nyawak, seserahan merupakan bagian dari acara warah-warah. Seserahan dilengkapi pula dengan pangasan, yaitu tepak yang berisi perlengkapan untuk menyirih. Daun sirih, kapur, pinang dan ditambah rokok. Konon, nenek moyang orang komering biasa menyirih (untuk wanita) dan merokok (untuk pria) sambil ngobrol.Suasana jadi lebih akrab jika dilakukan sambil nyirih dan ngudut.
Setelah juru bicara menyampaikan tujuannya untuk melamar, keluarga wanita di persilahkan untuk mencicip sirih yang dibawa sebagai simbol kerukunan, silaturahmi dan persaudaraan. Sirih dimakan bergilir dari keluarga wanita di lanjut ke keluarga pria.
Ketan, beras, telur
Ketan, beras dan telur diberikan bersama seserahan dengan harapan semoga dua keluarga yang akan menyatu dapat terikat begitu kuat dan serasi seperti ketan yang sudah diolah menjadi wajik dan dodol.enak dan menyatu.
Busumbah, ringgo’-ringgo’, pantun
tinggalda niku indok..
jadina bumasak posai
wahai pungantin
niku disawak tolu kali..mojongda posai dimukak indok…
(bc: tinggallah kau sendiri ibu memasak sendiri, wahai pengantin engkau disawak tiga kali, duduklah sendiri didepan ibu)
Nyawak dimulai. Calon mempelai wanita duduk sendiri.Nyawak pertama kali dilakukan oleh calon ibu mertua. Lilitan tali berbentuk lingkaran dikalungkan sebanyak tiga kali dari atas kepala dan dikeluarkan dari kaki. Nyawak kedua dilakukan oleh bibik-bibik dari mempelai pria sebanyak satu kali. Calon mempelai wanita sudah di ikat dan diterima oleh keluarga pria. Ibu me-nyawak sebanyak tiga kali karena kelak ibulah yang akan banyak berinteraksi dengannya.
Sembari menyawak, pemandu acara yang di-tua-kan akan memantun atau busumbah atau melakukan ringgo‘-ringgo’ (sejenis pantun dan lagu berbahasa melayu).
Sepupu dan ipar wanita dari pihak pria bergantian memakaikan pakaian adat. Mulai dar baju kurung, teratai, ikat pinggang, gelang, dll. Artinya keluarga pria mampu dan siap menafkahi mempelai wanita.
Upacara nyawak selesai.Sang pangeran resmi sudah meminang putri. Sambil menunggu waktu akad nikah dua bulan lagi, sang pangeran melaporkan pernikahannya ke kepala adat di desa setempat untuk diberikan jajuluk. Gelar resmi pertanda Orang Komering Asli. Ratu Sakti dan Nai Ratu Sakti,gelar saya, adalah salah satu contohnya.
Bangganya menjadi seorang putri kelahiran komering, di sunting oleh pria yang akan tinggal di bawah satu genting, membuat diri merasa teramat penting
. Salam jak jolma tubuh.
video:



